Panembahan Kaliwenang

0
333

Ketenangan,kesejukan dan kedamaian,itulah yang dapat kita rasakan begitu mengunjungi panembahan Kaliwenang. Untuk sampai ke tempat yang memanjakan mata dan hati ini anda hanya perlu menempuh 5 menit perjalan menggunakan kendaraan bermotor dari Balai Desa Piasa Kulon.Lima menit perjalanan menuju Panembahan Kaliwenang bisa anda manfaatkan untuk mengambil gambar atau sekedar menyegarkan pandangan anda. Hamparan sawah,diselingi pemukiman warga dan gemericik aliran sungai lengkap dengan pemandangan bocah yang sedang menikmati kesegaran air sungai yang masih bisa di andalkan kejernihan dan kebersihannya. Semua ini bisa anda nikmati di perjalanan menuju Panembahan Kaliwenang.

Panembahan kaliwenang.

Secara fisik tempat ini sangat menarik untuk di nikmati.Berada di kawasan yang rimbun dan dekat aliran sungai yang alami membuat tempat ini sangat pas untuk menenangkan diri. Tumpukan batu kali,beberapa pohon jati besar serta pagar bambu sangat apik berkolaborasi memagari tempat ini.Kontur tanah yang padat dan berlumut juga akan menyuguhkan pemandangan yang semakin langka kita temui.

Udara yang sejuk,pohon pohon yang rindang,tanah padat berlumut diiringi instrumen alam gesekan angin dan suara gemricik air sungai tentu sangat mahal untuk di nikmati di tengah kesibukan kita.

Anda tidak hanya dikagumkan oleh kondisi fisiknya,tempat ini pun ternyata memiliki cerita yang menarik.Panembahan Kaliwenang atau juga dikenal dengan panembahan kalikulur dipercaya sebagai petilasan atau bekas tempat tinggal tokoh sakti bernama Sapdo Palon Naya Genggong yang di percaya sebagai pamomong atau pengasuh para kesatria dan orang sakti pada masanya.

Pada jaman Brawijaya ke 1 terjadi perang saudara antara solo dan jogja.Mereka akhirnya meminta bantuan Kerajaan Majapahit, alih alih membantu peperangan mereka, Majapahit menyarankan kedua belah pihak untuk berdamai, namun mereka menolak dan justru balik menyerang majapahit. Kekuatan majapahit terlalu kuat untuk di kalahkan oleh solo dan jogja sekalipun. Inilah yang mengantarkan jogja dan solo ke kalahan. Pada saat itu dipercaya orang orang sakti dan para wali tinggal di wilayah timur yaitu jogja dan solo.Kekalahan itu membuat orang orang sakti dan para wali momongan KiSapdo Palon Naya Genggong pergi meninggalkan jogja dan solo.Ini juga yang membuat Sabdo Palon Naya Genggong berkelana menyusuri tanah jawa untuk mencari para momonganya.Sampai ketika dia tiba di kalikulur , suatu daerah di Piasa Kulon.

Dia berhenti sejenak untuk beristirahat,udara yang sejuk dan tempat yang rindang membuatnya nyaman beristirahat. Diapun memutuskan membuat pagubugan atau tempat singgah setelah melihat primbon atau kitab sakti yang dia miliki.Dia juga membuat galengan atau saluran air untuk mencegah jebolnya tanggul yang datarannya lebih tinggi dari tempat itu.

Konon setelah tinggal di tempat itu,dia beralih ke Srandil dan membuat keraton di sana.Ada 2 panembahan disini yaitu panembahan Sapdo Palon Naya Genggong atau di kenal juga mbah lepen wenang yang berada di sisi sebelah barat dan panembahan Sang Hyang Sejati di sebelah timur.

Konon tokoh inilah yang di percaya sebagai pamomong atau sang penjaga Desa Piasa Kulon.Terlepas dari kepercayaan,cerita dan sejarah adalah salah satu hasil kebudayaan yang patut di hargai.Banyak warga masyarakat yang datang untuk memohon keselamatan,kesehatan dan keberhasilan untuk dirinya dan keluarganya.Tidak hanya warga Desa Piasa Kulon,warga dari luar desa bahkan dari luar kabupaten pun banyak yang berkunjung ke tempat ini.Bagi mereka yang mempercayai panembahan ini sebagai tempat yang sakral biasanya datang kesini dalam kondisi perut kosong atau berpuasa sebelumnya.Dengan membawa kembang telon /bunga 3 rupa yaitu mawar,kantil dan kenanga,serta kemenyan dan minyak wangi.

Panembahan Kaliwenang

Sebagian percaya bila kita datang dengan baik dengan permintaan yang baik serta tidak merugikan orang lain,serta sesaji yang benar kita dapat melihat sang Eyang dalam bentuk semar .Hal ini dapat di kaitkan juga dalam filosofi pewayangan,semar juga dikenal sebagai pamomong/pengasuh para tokoh kesatria.

Mbah yamin kuncen panembahan kaliwenang.

Cerita yang beredar pun beragam,cerita di atas didapatkan dari seorang kuncen bernama mbah Yamin yang lahir pada tahun 1924 dan sudah mengabdikan diri sebagai kuncen sejak 1960.

Upacara labuhan/musim tanam padi.

Salah satu penghormatan warga desa Piasa Kulon atas nilai sejarah di desa ini adalah upacara Labuhan yang rutin di laksanakan di setiap awal musim tandur/tanam padi.Ratusan petani membawa aneka makanan dan jajanan untuk dimakan bersama dan berdoa bersama untuk keselamatan seluruh warga desa dalam memulai musim tanam dan tanaman yang di tanam.Bagaimana anda berminat mengunjungi tempat ini ?

(Sumber : visitpiasakulon.wordperss.com )

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda
Silahkan isi nama Anda disini